Seorang Ibu yang Mengagumkan


ibu2Malam itu, setelah berkutat dengan beberapa tempat di Jakarta untuk bersilaturrahim dengan sanak saudara, akhirnya saya, Mama dan kakak perempuan saya memutuskan untuk melawati malam dengan pergi ke suatu bioskop. Yup setelah menunggu-nunggu waktu luang yang tersedia, akhirnya kami dapatkan juga waktu untuk menonton Ketika Cinta Bertasbih 2. Dalam tulisan ini, bukan kisah dari film tersebut yang saya akan ulas. Tetapi, justru suatu kisah luar biasa yang terkuak secara tidak sengaja disaat kami sedang menunggu dibukanya pintu teater 3 di bioskop itu.

Seorang ibu berjalan dengan menampakkan kekuatannya, tetapi tak dapat ia sembunyikan raut mukanya yang begitu kuyu. Nampaklah  goresan-goresan peluh yang mengalir membentuk garisan umur yang menampakkan dia sudah tidak muda lagi. Hanya dengan mengenakan kaos hijau abri yang lusuh, nampak kebesaran di badannya yang memang besar pula, dan memakai celana pendek selutut serta sandal jepit tua untuk padanannya. Cukuplah sudah untuk membayangkan bagaimana sosok seorang ibu yang nampak sangat lelah dalam usianya yang sudah senja.

Kira-kira, kalau kalian jadi saya pada saat itu, apa yang akan kalian pikirkan  tentang ibu itu??

Sepertinya tidak akan jauh berbeda dengan apa yang saya pikirkan (jujur dan tanpa dibuat-buat). Yup, yang saya lihat hanyalah ibu yang tidak ada apa-apanya dibanding ibu saya, seorang ibu yang sepertinya hanya menghabiskan masa tuanya dengan bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya, dan tidak dipedulikan oleh anak-anaknya yang entah sekarang ada dimana. Seorang ibu yang entahlah ia mengais rizki dimana sampai tak ada kata rapi untuknya.

Dimulailah dialog itu, ketika ia duduk persis dsamping saya dan tak jauh dari Mama saya..

“Mau nonton Bu..?”  Tanya ibu itu pada Mama  tanpa basa-basi.

“Iya.. ni anak-anak pada ngajak nonton KCB, ibu juga??” Jawab Mama dengan ramah sembari diiringi pertanyaan lanjutan.

“Nggak bu,,Cuma mau karokean aja, kan dah capek tadi siang kerja, nah kalau malem mau santai-santai saya,,kebeneran hobi karaoke, jadi kesini terus..hampir tiap hari.” Jawab ibu itu tanpa malu-malu. Kebetulan d sebelah bioskop itu ada tempat karokenya. Yaa..lumayan ramai lah, sampai ibu ini kebagian waiting list-nya saja.

singkat cerita, ibu itu mulai berbicara tentang dirinya. Begitulah salah satu ciri bangsa indonesia yang terkenal keramah-tamahanya. Hanya dalam waktu 15 menit, orang yang tadinya terasa asing bagi kita, tiba-tiba saja menjadi layaknya saudara sendiri.

Seorang ibu yang mengagumkan menurutku. Ibu yang mendidik anaknya seorang diri  dengan penuh kedisiplinan. Dia mulai bercerita tentang anak-anaknya yang (kalau saya pikir)sudah termasuk sukses. Ibu itu memiliki 4 anak, 3 di antaranya berkuliah d UI. Dua anaknya yang pertama di kedokteran , dan yang 1 lagi di ekonomi. sedangkan anak yang terakhir masih besekolah di salah satu SMA Favorit di Jakarta.

“Kalau anak-anak saya mah ga pada macem-macem Bu. Maklum saya terkenal keras kalau mendidik anak. Saya bilang sama mereka ,kalau lo ga dapet di UI ga gue kuliahin! Ibu gak punya duit buat nyekolahin lo di swasta apalagi di tempat yang jauh-jauh. Kalau lo punya duit sendiri sih terserah lo mau kuliah dimana.” Dengan menggebu-gebu dia memaparkan prinsipnya yang biasa ia terapkan kepada anak-anaknya. “Gue mah ga punya apa-apa buat lu, gue cuma bisa ngewarisin otak buat lu hidup. Di zaman kayak gini, lo ga punya otak mana bisa hidup.”

Kemudian dia menceritakan bahwa anakanya yang pertama dan kedua sudah bekerja menjadi dokter di RS Sentra Medika (Kalau saya tidak salah ingat). Anaknya yang pertama bekerja sebagai spesialis anak dan yang kedua sebagai dokter umum.

Saya mulai terperangah saat tahu anak-anaknya yang sudah pasti cerdas itu. Yang jadi pertanyaan dalam diri saya adalah ‘ah, bener ga sih? kalau liat dari penampilannya, koq kayaknya ga mungkin dia punya 2 anak yang kuliah di kedokteran UI’. Yang  notabene memakan tidak sedikit biaya untuk belajar di dalamnya. Dan tentunya kebanyakan orang-orang borjuis dan berkantong tebal  yang bisa kuliah di sana. Yaa, kita lihat saja nanti di akhir kisah ini.

Tak lama kemudian dia mulai bercerita tentang anaknya yang pertama. Anaknya itu baru saja menikah dengan dokter muda dari Sumatra yang baru dia kenal selama 1 bulan.

“Saya tuh paling ga suka ngeliat anak-anak zaman sekarang yang kerjaannya pacaran melulu. Giliran sakit hati, ngambeknya berminggu-minggu.Kalau anak saya sih ga ada ceritanya boleh pacaran. Saya bilang sama mereka, kalau lo mau mau  kuliah ga usah pacaran, kalau mau pacaran ya ga usah kuliah. Jodoh mah kagak kemane. Liat aja anak saya yang pertama, begitu lulus, kerja langsung dapet jodoh.” Begitulah kira-kira prinsip kedua yang dia tekankan kepada anak-anaknya. Kalau dilihat sekilas sih sepertinya Ibu ini tidak terlalu paham agama (di dalam islam memang tidak memperbolehkan pacaran),  tapi sepertinya dia memiliki prinsip yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Setelah puas menceritakan anak-anaknya yang sungguh ia banggakan (InsyaAllah, 4 tahun saya juga akan menjadi kebanggaan Mama, amiin). Dia mulai bercerita tentang pekerjaannya.

“Saya tukang buah Bu, dulu tiap hari kerja dari pagi sampe sore keliling jualan buah di pasar. Ya Alhamdulillah sekarang udah punya 4 kios, jadi sekarang kelilingnya ke kios-kios aja ngawasin anak-anak. Nah, dari situ saya banting tulang ngebiayain sekolah anak-anak saya. Capek memang Bu, apalagi di umur yang udah ga muda lagi. Untungnya saya punya anak semua mau ikutan ngebantuin usaha saya. Ya jadinya seperti sekarang ini, omzet di kios saya bisa nyampe puluhan juta per bulan. Alhamdulillah cukup untuk biaya anak-anak.” Penjelasan yang mengalir mulus dari seorang ibu yang hanya berpenampilan (kalau boleh saya bilang) ala kadarnya ini.

Cuma satu kata yang terluncur dari mulut saya pada saat itu “WOW”. Amazing banget saat tahu Ibu yang berpakaian lusuh itu adalah pengusaha buah yang sukses. Dan dari situlah ibu itu membiayai anak-anaknya sampai berhasil. Subhanallah, tak terbayang oleh saya perjuangan yang telah Dia lewati. Bersahabat dengan peluh, penat dan debu diantara gang-gang di pasar yang penuh sesak selama berpuluh-puluh tahun demi masa depan anak-anaknya tercinta. Perjuangan yang tak pernah mengenal lelah.

“Kalau sekarang mah, semua udah ada yang ngurusin, saya tinggal ngawasin aja. Udah capek lah Bu, puluhan tahun berkutat dengan kehidupan pasar. Sekarang tinggal giliran anak-anak yang nerusin usaha saya.”  Mungkin , baru sekarang Ibu itu bisa benar-benar ‘menikmati’ hidupnya. Tapi tak pernah ia tinggalkan kesederhanaan dalam dirinya.

DON’T JUDGE THE BOOK FROM ITS COVER. Ya kata-kata ini memang benar benar TERBUKTI di sini. Begitu banyak yang saya pelajari dari pertemuan yang tak terduga ini. Hanya dalam kurun waktu tak lebih dari 30 menit, kisah hidup seorang ibu yang berjuang  demi masa depan terbaik untuk anak-anaknya saya dapatkan.

Cijantung, 280909

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: