Heii…Sejak Kapan Kau Disana??!


Sabtu yang tenang di tengah minggu yang tegang.
Kok bisa? Tentu saja, karena memang pekan ini adalah pekan perjuangan para mahasiswa sejati. Ya, UAS tentunya yang menjadikan kita sadar selama ini masih belum memanfaatkan waktu dengan baik dan benar. Banyak waktu yang terbuang sia-sia, padahal alangkah baiknya jika dipakai untuk memperdalam ilmu yang sedang kita pelajari. Sedih..kalau teringat nasihat Imam Ghazali:

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya….
“Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?”.
Murid -muridnya menjawab “negara Cina, bulan, matahari dan bintang -bintang”.
Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahawa semua jawaban yang mereka berikan itu adalah benar. Tapi yang paling benar adalah “MASA LALU”.
Walau dengan apa cara sekalipun kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Ketika rasa penat ini memuncak pada titik jenuh otak, tiba-tiba saja terpikir oleh ku suatu tempat yang dulu sering  saya singgahi tiap minggunya sebagai tempat menenangkan diri. Semenjak dibombardir banyak tugas, baik itu tugas kuliah ataupun organisasi, saya jadi jarang ke sana, waktu luang sering kali dipakai untuk istirahat di kamar. Kadang untuk mengupdate tulisan di blog ini saja tidak sempat (maklum, saya orang yang butuh waktu yang cukup lama untuk mendapatkan inspirasi).

Pagi yang cerah..Tembalang merekah.
Untunglah..karena beberapa hari terakhir memang air hujan sedang bersemangat mengguyur bumi tembalang. Akhirnya saya dan teman kecil saya (Dita: bukan berarti dia adalah teman semasa kecil saya, tapi memang karena tubuhnya yang mungil hehee..) bisa pergi ke tempat itu, berjalan menyusuri jalan berombak yang biasa kami lalui… turun… naiiik.. luruus.. dan akhirnya berbelok pada satu jalan yang sudah tidak lagi diselimuti aspal.
Setapak jalan yang dilapisi tanah merah menyambut kami, mulailah tercium aroma khas ilalang yang masih basah oleh tetesan embun pagi  (Hmmm…bau yang kusuka). Dikanan kiri jalan itu berjejer berbagai macam tanaman liar, entahlah apa itu namanya, yang jelas bisa membuat mata ini segar kembali saat memandangnya. Sepertinya, jalan yang kami lalui masih lembab karena guyuran hujan, yang membuat jejak-jejak kaki kami tercetak jelas disepanjang jalanan yang kami lalui. Derap langkah sedikit berat karena sedikit demi sedikit sandal kami mulai bersahabat dengan tanah merah. (Hahaa…akrab sekali mereka, membuat saya bertambah tinggi 2cm!)

Tanpa sadar tampak dari kejauhan matahari mulai menampakkan sinarnya, sinarnya yang menimbulkan semburat kehangatan di lubuk hati, hati yang berusaha menyampaikan perasaannya pada sang pagi, ia pun berbisik:

“Aku suka pagi dengan rasa dingin menusuk yang terganti perlahan oleh semburat hangat senyum mentari.
Aku suka pagi dengan embun-embun  basah dan sinar matahari yg masih malu-malu menyapa diantara rerimbunan daun dan kicau merdu burung bernyanyi.
Aku suka pagi,karena pagi adalah awal hari yang dengan terpaksa selalu tergesa kuakhiri.”

Ya, memang benar, aku suka pagi beserta kemewahan yang ada didalamnya, sangat! Bahkan Waktu pagi telah dido’akan khusus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai waktu yang berkah.

Dari sahabat Shokhr Al Ghomidiy, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا
Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”

Kemudian kami menoleh ke arah cahaya itu muncul. Sontak kami tercengang..Heii sejak kapan kau berada disana?? Yang kami maksud bukan seseorang, tetapi matahari yang letaknya menyerong jauh dari tempat yang biasa kami lihat. Keanehan itu pun membuat kami mengingat-ingat kapan terakhir kali kami ke tempat ini. Mmm…1 menit…2 menit…3 meniit…5 meniiit…huuufff…10 menit…Yap! Tetap saja tidak ingat…(Heheee..)

Ngomong-ngomong tentang posisi matahari, sebenarnya banyak ilmu astronomi yang bisa menjelaskan semua itu. Sebenarnya yang mau saya bahas bukan tentang bagaimana matahari berpindah kedudukannya, tapi kejadian ini bisa dianalogikan dengan kehidupan kita. Terkadang kita menjalani hidup dengan prinsip ‘go with the flow aja seperti air’. Tetapi, apakah kita lupa kalau air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah? Nah, saat kita menjalani hidup seperti itulah yang membuat kita terkadang benar-benar mengikuti arus kehidupan, perlahan berpindah tempat, sedikit demi sedikit. Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan, bulan berganti tahun, semua berubah termasuk posisi kita dan Sang Mentari. Tanpa disadari kita sudah beranjak jauh dari tempat sebelumnya. Banyak yang berubah..tapi tidak ada yang memperhatikan, sampai tiba-tiba ada seseorang di sebrang sana yang berteriak:
“Heii…sejak kapan Kau berada disana?” terlihat kebingungan pada wajahnya saat melihat kita yang sudah tak dekat lagi dengannya (Seperti saat saya melihat matahari itu).

Ya, seperti itulah kita..terkadang teman terdekat pun tidak menyadari perubahan itu, sampai akhirnya dia sadar kita sudah benar-benar berbeda. Jadi teringat salah satu teman saya, sebut saja namanya melati (dah kayak di reportase aja nih..). Dia yang tadinya saya pikir bisa membawa saya menjadi lebih baik, menjadi tempat berbagi, dan saling memahami malah cenderung berubah sangat jauh sekarang. Dan celakanya saya baru sadari itu sekarang! Astagfirullahaladzim…(Ampuni dosaku ya Rabb, karena terlalu asik beraktifitas bersama teman yang lain dalam satu tujuan, hamba-Mu ini lupa untuk terus merangkulnya).

Perubahan itu selalu ada kawan, tidak peduli kita sadar ataupun tidak. Tapi coba kita cek kembali, apakah diri kita sudah berubah?? Berubah ke arah mana? Yang lebih buruk atau yang lebih baik?? (Dengarlah jawaban dari hati kecilmu..lalu resapilah). Semoga kita selalu menjadi orang yang beruntung, orang-orang yang setiap detiknya selalu lebih baik dari sebelumnya (Amiin.. Allahuma amiin). Sulit?? Memang..tapi bukan berarti tidak mungkin kan?

Tembalang, Semarang 09 Januari 2010

Maaf kawan, aku lupa untuk terus merangkul mu.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: