Loh Kok nyalahin orang lain?!


Tulisan ini berdasarkan pengalaman di beberapa hari terakhir ini yang mengharuskan saya bertemu, berbicara dan berdiskusi dengan banyak orang di sekitar saya. Hmm…mengherankan memang ketika sadar ‘penyakit’ ini mulai menyebar disekitar saya..atau mungkin saya juga sudah terkontaminasi??

Krisis multidimensi yang terjadi disekitar kita ternyata juga menyangkut aspek mental (nah loo…kenapa nih?). Krisis mental yang kita alami juga cenderug semakin parah. Ada beberapa di antara kita yang sudah terseret oleh ‘penyakit’ ini, ikut-ikutan meneriakkan hal negatif  untuk orang lain yang notabene ‘menurut’ mereka patut disalahkan. Atau jangan-jangan kita sudah terseret budaya mudah menyalahkan orang?? Sebagian dari kita begitu fasih dan lantang menuntut para pemimpin, bawahan atau bahkan orang lain sekalipun untuk mengatasi krisis dan memperbaiki keadaan. Sebagian yang lain begitu keras menyalahkan orang lain dan merasa dirinya selalu benar. Ada lagi yang sangat terampil melihat kekurangan-kekurangan dan kesalahan orang lain, walau kesalahan itu amat kecil. Sepertinya kita telah terkena wabah “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak nampak”. Sementara itu orang-orang yang menuntut, seolah-olah cuci tangan dari keadaan yang telah terjadi, padahal mereka juga bagian dari sistem tersebut (hmm..miris sekali melihatnya). Sampai-sampai saya berfikir, sepertinya sudah merupakan dampak psikologi saat seseorang terpojokan oleh situasi, akhirnya mereka akan mencari-cari celah untuk mengambil kesempatan lari dari kesalahan. Beribu alasan meluncur begitu saja. Akhirnya satu dan yang lain mempunyai sudut pandang yang berbeda. Tapi ada yang sama dari sudut pandang tersebut. Apakah itu? yap! sama-sama menyalahkan orang lain, sama-sama memberikan pembelaan dan sama-sama mencuci tangan sebersih-bersihnya dari setiap kejadian.

“Loh kok nyalahin orang lain?!”  kalimat ini begitu saja terlintas setiap kali harus mendengarkan ‘rintihan’ mereka. Membahasakan kekurangan diri sendiri memang tidak mudah. Tapi alangkah baiknya kalau kita sadar pencitraan diri kita di mata orang lain. Ingatlah..perbuatan akan lebih bermakna dibanding perkataan yang sehebat apapun!

Kalau kita ingin berhasil mengembangkan diri menjadi SDM yang unggul (emangnya bibit apa?? hehee..) sebagai modal utama mewujudkan semua mimpi kita dalam hidup ini, kita tidak boleh terseret oleh ‘penyakit’ tersebut, yaitu mudah menyalahkan dan meremehkan orang lain. Setiap kali akan menyalahkan orang lain, kita dapat mencegahnya dengan mengingat filosofi tangan yang menunjuk dan menyalahkan orang lain itu: satu jari telunjuk mengarah ke orang itu dan tiga jari mengarah ke tubuh kita sendiri. Boleh jadi, kelemahan atau kesalahan kita tiga kali lipat dari orang itu. Jadi, kita tidak pantas untuk marah-marah dan menyalahkannya. Bahkan di Al Qur’an pun sudah jelas di terangkan dalam surat Al Hujurat ayat 11-12 :

“Hai orang-orang yang beriman,janganlah suatu kaum mengolok-olok suatu kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjingkan sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Dua ayat ini saja didalam surat Al- Hujurat sudah menunjukkan makna yang dalam pada kehidupan manusia. Bagaimana manusia harus bergaul terhadap sesamanya, bagaimana menjaga perkataan dan perasaan atau bahkan yang lebih berat lagi adalah bagaimana aturan dalam pembinaan umat manusia.

Kalau kita terpaksa menunjukkan kesalahan orang lain karena tuntutan tugas, kita harus tetap menggunakan kepala dingin dan bahasa yang santun. Kita juga tidak boleh mempermalukan dia dihadapan rekan-rekannya. Lebih baik lagi kalau dibicarakan secara pribadi, heart to heart. Agar kita mengerti apa yang dia rasakan sehingga berdampak pada kinerja dan kesehariannya. Dan jangan lupa untuk introspeksi diri, karena mungkin masalah itu datangnya dari diri kita sendiri.

Saya akui, secara pribadi memang saya masih jauh (jauh sekali bahkan!)  dari apa yang diinginkan oleh agama saya (Islam). Terkadang  pun saya masih suka mencari-cari kesalahan dan menyalahkan orang lain. Memang bukan tugas kita untuk selalu menjadi sempurna, tapi kita tidak berhak untuk tidak mengawalinya dari sekarang bukan??

Tembalang, Semarang 180110

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: