Memilah-milih mendingan jadi Sang Pemilih


Setelah membaca sebuah buku dan sedikit mengerti tentang organisasi (dan menyambung-nyambungkan antara keduanya), sepertinya ada kaitan langsung antara sejauh mana kita efektif di lingkungan kita dan seberapa banyak tanggung jawab kita disana. Semakin kita proaktif, semakin besar kemungkinan kita untuk mewujudkan impian dan meraih keberhasilan. Semua itu tergantung bagaimana kita memandang kehidupan secara keseluruhan, dan yang lebih penting bagaimana setiap orang yang berada di atas berusaha menemukan potensi anggotanya sehingga mereka dapat berprestasi dengan baik.

Kebalikannya juga sama sebenarnya: Semakin kita tidak mau mengambil tanggung jawab untuk diri sendiri dan memberikan kontribusi yang sedikit, semakin sulit untuk menjadi efektif. Sebentar-sebentar, sepertinya saya lupa untuk menjelaskan arti kata-kata aneh di atas. So, kita pending dulu tulisan ini dan kita tanya mbah google. hehee..

Apa itu Efektif?
Sejauh yang saya tau dari mbah google yang sepertinya arti kata efektif ini sendiri masih simpang siur, mari kita simpulkan saja bahwa efektif itu berarti tepat guna. Ya intinya berfungsinya ‘sesuatu’ untuk mencapai tujuannya.

Apa sih Proaktif itu?
Proaktif tidak sekedar berarti biasa mengambil inisiatif. Tetapi selain berinisiatif, juga memahami dengan jeli permasalahan yang dihadapinya dengan kaca mata nilai yang akurat, dan tidak semata mengikuti perasaan. Orang proaktif dapat meletakkan perasaan setelah nilai. Orang proaktif memahami dengan baik kekuatan dan kelemahan di
dalam dan di luar dirinya, dan ia dapat menjadi manajer yang baik terhadap hal-hal tersebut untuk kemajuan dirinya.

Dan hubungan antara tanggung jawab dan efektivitas tergambar seperti di bawah :

Tanggung jawab berasal dari kemampuan kita menghadapi sesuatu. Kita mungkin tidak mampu mengendalikan situasi sekitar,tetapi kita bisa memilih cara menanggapinya. Seseorang menjadi bintang karena mereka mengambil tanggung jawab besar di berbagai bidang kehidupan.

Anggota Tim : (Datang tergesa, wajahnya terlihat kesal) Maaf terlambat. Ini bukan salah saya. Jalanan macet! Saya terjebak lama sekali disana. Penuh banget deh jalanannya. Nyebelin!

Rekan kerja: Tapi, Kamu juga termasuk yang membuat jalanan itu penuh dan macet kan?

Anggota Tim: Mmm…Bener juga sih (Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal). Kalau gitu saya minta maaf karena sudah datang terlambat. Saya juga bertanggung jawab atas kejadian ini. Saya berhasil membuat jalanan penuh sesak dan kemacetan yang sangat panjang. Hebat,  kan?

Kejadian di atas sering sekali muncul di sekitar kita. Dan kejadian tersebut tidak akan pernah mengubah persepsi orang kalau mereka tidak memiliki perasaan ‘berdaya’. Yang tadinya merasa menjadi korban dari situasi yang terjadi, mereka malah bisa mengambil alih situasi dan mengubah keadaan mereka dengan cerdas. Pendekatan seperti ini membantu orang untuk memahami perubahan secara lebih positif dan mereka pun dapat menangkapnya dengan baik. Seperti kata pepatah:

“Anda tidak bertanggung jawab atas latar belakang dan lingkungan sekitar, tetapi Anda bertanggung jawab untuk menentukan orang macam apa Anda itu.”

Banyak perubahan besar di berbagai organisasi terlihat sangat bagus di atas kertas (Biasanya bisa dilihat di LPJ), tetapi tidak pernah bisa mendongkrak prestasi anggotanya. Mengapa demikian? Sering kali hal itu terjadi karena pemimpinnya hanya memaksakan rencananya pada anggota, namun pesan yang ditangkap oleh anggota adalah: ” Kamu adalah korban dari keputusan ini.” Anggota pun akan merasa tidak berdaya dan sering jengkel. Mengapa mereka harus berusaha keras agar berprestasi lebih baik, untuk mencegah terkena imbas resuffle.

‘Korban’ bukan hanya tidak mau mengambil tanggung jawab, mereka juga menyalahkan orang lain dan merasa nyaman bersikap reaktif disamping besikap proaktif, dan sering menghabiskan banyak waktunya untuk berkeluh kesah dan menghancurkan motivasi orang di sekitarnya. Sebaliknya, ‘Pemilih’ adalah orang yang proaktif, terus berusaha memperbaiki keadaan, memiliki sikap mampu bebuat, dan mengambil tanggung jawab untuk diri sendiri, dan berkomitmen untuk mewujudkan cita-citanya.

Untuk menggambarkan pemikiran tentang korban dan pemilih, inilah dua respon yang berbeda untuk satu kejadian yang sama.

FAKTA :

  • Biru memiliki atasan bernama Langit.
  • Langit mengelola sebuah departemen dan bertanggung jawab pada atasan dan tim departemennya.
  • Langit  meminta Biru untuk memikirkan sebuah gagasan baru yang fresh untuk meningkatkan kinerja departemen mereka.
  • Biru mendengar dari temannya bahwa beberapa gagasan yang ia buat sudah mulai diterapkan.
  • Atasan Langit, Surya, sepertinya senang dengan perubahan yang terjadi.
  • Gagasan  itu sendiri belum dibicarakan dengan Biru.
  • Langit belum mengakui bahwa ia menerima laporan dari Biru.
  • Biru sekarang sedang menunggu kabar tentang kelanjutan gagasan barunya.

Reaksi Biru Sebagai Korban

Aku yang susah-susah mikirin dan membuat gagasan baru itu lebih awal dan tidak seorang pun yang peduli. Berani-beraninya Langit mencuri gagasanku. Gagasanku diterapkan tanpa melibatkanku. Nyebelin banget! Dia bahkan belum membicarakannya denganku. Surya mungkin ga tau bahwa aku ada di sini! memikirkan ini semua! Langit benar-benar membuat ku kesal. Ok, kalau begitu aku ga bakalan merubah apapun di sini. Orang lain memang selalu mengeksploitasi dan mengabaikan ku. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Lagian juga, apa gunanya?

Reaksi Biru Sebagai Pemilih

Membuat gagasan itu lebih awal ternyata ada gunanya juga: Beberapa saran yang aku berikan sudah terwujud. Walaupun Langit luar biasa sibuk, ia masih punya waktu untuk mengajukan gagasan ku kepada Surya. Waktu yang kuhabiskan untuk memikirkan itu semua ternyata tidak terbuang percuma karena gagasan itu sekarang sudah terwujud. Aku akan bilang ke Langit bahwa aku sangat senang karena akhirnya perubahan terjadi di sini. Walaupun begitu, aku kesal karena Langit belum mengaku menerima gagasan itu dariku dan belum membicarakannya denganku. Aku akan minta waktu untuk bertemu dengannya. Aku akan minta agar dia memberitahuku lebih dulu walaupun aku tau dia luar biasa sibuk. Aku akan mencari kesempatan untuk menanyakan kemungkinan aku dilibatkan.

Hal ini bukan tentang berfikir positif dan mengabaikan masalah, tapi tentang mengambil tanggung jawab dan tidak menjadi korban situasi. Tidak ada yang berubah dalam kejadian ini, kecuali cara Biru menanggapinya. So, jadilah Sang Pemilih kawan!

Tembalang, Semarang 270110

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: