Ekspedisi alam Curug Lawe..


Semburat matahari pagi pada tanggal 13 juni 2010 ini benar-benar membuat saya sangat bersemangat! Entahlah. . mungkin karena hari ini saya akan memuaskan jiwa petualang yang telah lama terkapar tak berdaya terkubur oleh banyaknya tugas yang harus dijalankan. Setelah memasuki dunia perkuliahan, rasanya untuk refreshing otak saja mulai agak sulit, apalagi memiliki waktu uuntuk diri sendiri. Nah, kesempatan bertualang bersama Sobat Alam (Nama sekumpulan anak pencinta alam di Teknik Industri Undip) tidak akan saya lewatkan. Kali ini, tujuannya adalah sebuah sungai yang bermuarakan Air Terjun yang berlokasi di daerah Gunung Pati. Hmm…membayangkannya saja sudah membuat bibir ini menyunggingkan senyuman.

Tepat pukul 07.30 WTB (Waktu Tembalang..hehee) sekitar 30an calon engineer masuk ke dalam sebuah truk ungu yang sangat ‘cantik’. Yap, memang inilah transportasi yang kami gunakan. Berdesak-desakan dan bertubruk-tubrukan sudah menjadi hal biasa. Maklum..namanya saja sudah Sobat Alam, ya harus bisa memanfaatkan apa yang ada dong (berhubung hanya bermodalkan 20 ribu rupiah), selain itu dengan kapasitas truk yang lumayan besar, emisi gas pembuangan kendaraan bermotor paling tidak agak sedikit berkurang dibanding jika kami memilih untuk naik motor. Kadang-kadang memang keterbatasan yang mengeratkan persaudaraan. Bahkan banyak kejadian-kejadian ajaib saat di perjalanan.

Yang paling saya ingat adalah saat kami melalui jalan rusak yang membuat kami terlempar kesana-kemari di dalam truk. Di suatu waktu kami semua tersentak ke belakang dan tangan kami terlepas dari pegangan. Memang saat itu kami naik truk dengan posisi berdiri. Semua nyaris ambruk berjatuhan ke lantai truk. Dan tiba-tiba saja, teman saya yang bernama Utari meloncat dengan indah ke tengah truk dan kemudian dengan bangga dia berucap:

“Moment ini dipersembahkan oleh…..!” Hahahahaaa…kalimat barusan disambut dengan tawa riuh di truk. Ada-ada saja di saat seperti itu masih sempat berpikir secepat  kilat dan mengeluarkan guyonan yang ajaib!

Dan kemudian beberapa menit setelahnya. Masih dengan kondisi yang sama…

Ide   : “haduuuh…aduuuh…aww…”

Saya : “ De, yang bener dong berdirinya”

Ide   : “susah ni mut pegangannya….aku pegangan sama kamu aja yaah…aduuuh”

Saya: “Loh de, ga boleh ah…pegangan kok sama aku..berpeganglah kepada Al-Qur’an dan As-Shunah!”

Semua nyaris pingsan karena tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban ekstrim yang keluar dari mulut saya. Lah, memang benar harusnya seperti itu kan? hehhee. Bahkan ada teman saya yang berkomentar:

Ciqu :  “ Sumpah mut,,tengil banget jawabannya…hahaa..”

Setelah satu jam lebih terombang-ambing di perjalanan, sampai merasa kebingungan karena naik truk dan naik bajaj bedanya tipis ternyata (XD heheee..) akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Tulisan yang pertama terpampang adalah : “JANGAN MANDI DI BAWAH AIR TERJUN”

Kami pun turun dari truk dan kemudian dimulailah ritual awal rutin bernama ABSEN. Setelah itu memasuki sesi pembagian plastik untuk memunguti sampah di sepanjang penyusuran kami nantinya. Sebelum memulai perjalanan ritual wajib yang satu ini wajib dilakukan. Yap, mari berdoa agar diberikan keselamatan dan kelancaraan saat penyusuran.

Langkah pertama dimulai..

Kami disambut dengan aroma dedaunan yang hmm…Subhanallah..luar biasa menyegarkan… sejuuuk… hijauu dimana-mana.. pemandangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.. terlalu indah…

Jalur pertama yang kami lewati adalah jalan setapak sepanjang kurang lebih 1 km. Kami menyebutnya jembatan shiratal mustaqim. Karena jika jatuh ke sebelah kanan ada sungai kecil yang cukup dalam dan jika jatuh ke sebelah kiri, jurang sedalam lebih dari 20 meter siap menampung tubuh kami.

Setelah perjalanan yang cukup membuat kaki yang mulai renta ini terasa nyeri. Barulah kami masuk ke petualangan yang sebenarnya. Susur sungai… Banyak pengalaman yang tak terlipakan di sini. Mulai dari terpeleset dan terjebur ke dalam sungai, sandal putus dan hanyut terbawa air dan masih banyak lagi. Tapi yang jelas yang paling berkesan adalah rasa kebersamaannya, saling tolong-menolong untuk sampai ke tempat tujuan yang sama.

Huaaaah… mantabz sekali penyusuran sungai kali ini, karena sebenarnya tracknya tidak berhenti hanya sampai di situ. Kami masih harus melalui jalan menanjak dan berbatu besar-besar pula untuk sampai ke air terjun yang kami nantikan. Sudah terlihat..

Saat itu, nyaris pupus harapan kami..masih butuh kekuatan ekstra untuk sampai di sana. Tapi karena layar sudah terkembang..akhirnya kami memutuskan untuk tetap mengayuh perahu ini. Dengan semangat 45 kami teruskan perjuangan! Huff…huff…huff…

Alhamdulillah setelah peluh, keluh dan kesah di perjalan.. Curug lawe menyambut kami dengan cipratan airnya yang lembut mengalir..terjun bebas dari ketinggian, meloncat cantik dari atas dengan keindahan yang dibawanya.. merdu…suara yang ditimbulkan debur air yang jatuh menabrak bebatuan dan kayu-kayu tua yang berada di bawahnya..Tenang…hati ini ketika mendengarkan dengan seksama..suara alam yang membuat saya terkesima… Subhanallah…Subhanallah…Subhanallah… betapa indah ciptaan-Mu ya Rabb… Terasa waktu berjalan lambat di sini..semua terdengar.. kicauan burung.. desingan serangga… desir angin… gemericik air.. saraf-saraf di otak mulai meregang perlahan mengikuti irama suara alam…  Haaahh…nikmatnya…

Setelah puas memandangi, mendengarkan, merasakan dan menikmati keindahan alam… inilah waktunya untuk mengisi perut yang mulai mengadakan konser rutin di setiap jam makan..  Karena semuanya serba terbatas dan di sana tidak ada satu warung pun yang menjual nasi padang (hahaa…ya ga mungkinlaaah). Akhinya kami melibas tuntas setajam silet segala perbekalan. Mulai dari snack, ubi bakar, jagung bakar..dan semua yang masih bisa dimakan..


Alhamdulillah.. amunisi sudah masuk semua ke dalam perut dengan tenang…  Sekarang tiba saatnya untuk meninggalkan segala kemewahan ini.. sayang rasanya untuk pergi.. tapi jika teringat akan kewajiban  yang harus dikerjakan..kami semua memang harus kembali ke habitat kami yang sebenarnya kampus pink yang penuh ‘cinta’ Teknik Industri Undip.. Petualangan yang berkesan…ekspedisi yang membuahkan kebahagian…  Salam Lestari!

Ditulis dalam Reportase. 15 Comments »

15 Tanggapan to “Ekspedisi alam Curug Lawe..”

  1. hasnulikhwan Says:

    ceritanya dramatis dan terasa melankolis…..
    sy jd ingin piknik segera, kyknya Dieng akan menjadi labuhan pertama….
    salam untuk Upyx (Lutvi) Dik…..
    sampikan salam dan pesan sy: kapan mw liqo’ di puncak Ungaran? hehe

  2. Biru Laut Says:

    huaaaa….mau ikuuut dong mas aan…..
    belum pernah ke dieng nii…
    sama siapa aja mas? ngajak2 kenapa? hehee…
    *ngarep diajak😛
    InsyaAllah saya samapaikan pesannya..keren juga tuh liqo di puncak ungaran, pasti sangat berkesan..
    oia, tgl 18 juli, sobat alam mau rafting…bayarnya cuma 125rb…murah bangeetzz.. langsung tancap gas!

  3. hasnulikhwan Says:

    ikut aja, bareng dewan komisaris GreenLife…..
    tadinya sy g ingin ikut rafting, tp melihat tayangan tentang serunya rafting di TV….malah jd ingin segera mencoba….
    125rb ya….
    hhhhmmmm,
    mmmmm,
    ehm,
    uhuk uhuk uhuk…. lg batuk nih🙂
    ntar lihat sikon dulu dh,

  4. Biru Laut Says:

    hah?! wah ga jadi deh,,ga mau mengganggu kedamaian hidup kalian.. hehee…
    ya ampun mas,, kalau di daerah jawa barat wktu thun lalu saya coba di citarik itu sekitar 300rb.. blm sama trasportasi lagi..
    batuk?? minum combantrin…
    hoee?? salah yaa?? hehee..

  5. Yandri Says:

    ke dago pakar ajalah yg deket…😛

    • Biru Laut Says:

      jiaaah…ga seru aaah da….
      Pengen banget ke Mahameruuuu….
      Ranu pane…ranu kumbolo…kalimati…arcopodo…mahameru..
      tunggu kedatangan ku… \(O.o)/

  6. Biru Laut Says:

    kebanyakan dewa tuhhh,,,,

  7. Tri Setyo Wijanarko Says:

    ya memang dengan menggunakan truck akan memuat lebih banyak orang sehingga emisi gas berkurang, tapi dari segi safety apakah aman mengangkut penumpang dengan truck yang notabene untuk memuat barang? lalu apakah hal tersebut juga tidak melanggar peraturan lalu lintas? ya mungkin baik untuk satu hal tapi tidak untuk hal lainnya..

    saya beberapa kali ke semarang dan pernah nyasar sampai dengan gunung pati tapi belum pernah tau ada tempat yang bagus ini.. kira-kira berapa jam perjalanan kalau dari tembalang?

    nice trip mbak mutia..

    • Biru Laut Says:

      hihiihii… emang bener kalau dr segi safety itu jauuuh dr kata aman. memang kadang mahasiswa suka nekat mas tri.. (walaupun ga baik jg). Dan tau ga? bertepatan dengan keberangkatan truk ini, ada tabrakan beruntun dgn antara truk,mobil dan bis kalau tidak salah. Alhamdulillah kami masih diberi keselamatan.🙂
      Tempat ini sepertinya tidak terlalu terekspose, karena letaknya agak terpencil dan sebelumnya ada kejadian yang tragis dan menewaskan pengunjung yg sedang mandi di bawah air terjun. Kalau dari tembalang hanya memakan waktu sekitar 1,5 jam aja koq.. Coba aja main ke tempat ini, di jamin seru! tapi juga harus ekstra hati-hati..

  8. dahliana agustini Says:

    fotoku pas lagi masak jagung bakar doang??
    gpp deh😛

    • Biru Laut Says:

      sing sabar ya nduk..ni foto2 dari HP ku aja soalnya.. hehee
      tapi lumayankan dah dipajang?? walaupun tampak belakang saja..😛

  9. Rosihan Zulkarnain Says:

    Wahh keren tempatnnua coy


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: