Sebuah kepingan kisah klasik untuk masa depan..


Bismillahirrahmanirrahiim…

Mencoba membuka lembar baru kembali untuk menggoreskan tetes-tetes tinta yang masih tersisa. Sudah sebulan ini saya tidak berhasil menyulam pikiran ini menjadi rangkaian kata. Mati gaya! ya, saya sering menyebutnya dengan istilah itu. Akhirnya banyak protes dari teman-teman karena sudah lama tidak menggarap tulisan apapun. Sebenarnya kalau dirunut lagi, ada beberapa hal yang membuat saya tiba-tiba saja malas untuk menulis. Terutama hobi lama saya yang benar-benar mengganggu keinginan untuk menulis. Rasanya, pikiran saya sulit sekali lepas dari ‘mainan’ ini. Keinginan yang membuncah kadang-kadang memang sering menutupi segalanya termasuk rutinitas saya. Kecanduan… itu yang bisa saya simpulkan. Alhamdulillah masa itu terlewati sudah, akhirnya bisa lolos lagi untuk kesekian kalinya..hhehee…

Sepertinya tulisan awal ini hanya akan berisi cerita saya akhir-akhir ini saja. Maklum, saya butuh pemanasan untuk tancap gas lagi. Kegiatan terakhir yang saya ikuti adalah Sekolah Kader Bangsa. Kegiatan ini diikuti oleh beberapa fakultas di UNDIP serta beberapa universitas lainnya. Luar Biasa! dari segi pembiara, orang-orang yang hadir disana tidak sembarangan. Ada wantimpres Ibu siti fadila supari, Bapak Wawan staf ahli wakil presiden, dan masih banyak lagi pembicara yang kalau saya bilang kereen abiiz..

Siapa sangka saya bisa beriskusi dengan beliau-beliau. Yang paling berkesan adalah ketika saya benar-benar tersadar akan kuatnya ideologi pancasila. Saya sempat bertanya kepada ibu Fadila apakah ideologi pancasila masih relevan dengan kehidupan bangsa Indonesia saat ini? Lalu beliau menjawab pertanyaan saya dengan bercerita tentang pertemuannya di Amerika kalau tidak salah, saat itu beliau masih menjabat sebagai menteri kesehatan. Bagaimana cara beliau menunjukan kepada dunia betapa ideologi pancasila merupakan ideologi terkuat dan hanya dimiliki oleh Indonesia. Hari itu juga, rasa bangga saya akan negeri ini semakin bertambah-tambah saja. Bagi saya tidak ada kata terlambat untuk menyadarinya. Memang ketika ditunjukkan kenyataan tentang negeri kita, banyak hal yang membuat saya kagum, tapi juga tak kalah banyak yang membuat saya ingin menangis. Kalau saja seluruh kaum muda melihat data A1 dari Pak Wawan,yang banyak membeberkan tentang kebobrokan Indonesia, mungkin akan bersatu lagi kekuatan untuk membangun bangsa.

Ada sesi dimana kami para peserta ditugaskan untuk survey ke sebuah desa bernama Sumur Rejo. Kebetulan saya kebagian mengunjungi sebuah peternakan sapi Kelompok Tani Ternak Sejahtera Lumintu. Kalau dilihat dari pemikiran para peternaknya, cara pikir mereka sudah jauh lebih maju. Berbeda sekali dengan tempat KKN senior saya yang masih terbelakang. Bahkan, anak dari peternak bernama Pak Rowi sedang menempuh S2nya dan anak lainnya sedang menempuh kuliah sarjananya. Menurut saya, itu sangat luar biasa. Karena biasanya, para peternak sukses menginginkan anak-anaknya menjadi peternak juga dan terkadang memang benar-benar meninggalkan bangku sekolah.

Seperti biasa, kita harus selalu berangkat dari peluang. Banyak sekali potesi yang bisa digali dari desa ini. Sumur Rejo, memiliki peternakan sapi, pabrik tahu, pabri pupuk organik dll. Tapi sayangnya letaknya sangat berjauh-jauhan. Pada diskusi malam hari bersama staff ahli walikota semarang, Bapak Heru, saya mewakili teman-teman SKB menyampaikan ide kami untuk membuat peternakan terpadu di Sumur Rejo. Selain bisa membuat lebih efesien dan efektif, saya rasa produktivitas pertanian dan peternakan juga akan meningkat. Selain itu, kawasan tersebut juga bisa digunakan sebagai kawasan wisata edukatif. Ide ini sangat pas dengan kenyataan bahwa Sumur Rejo merupakan lahan konservasi.

Target awal teman-teman SKB 2010 adalah survey dan riset ilmiah tentang potensi Sumur Rejo, kemudian dilanjutkan dengan pembuatan Grand Design Peternakan Terpadu dan proposal pengajuan ke Pemkot. Semoga saja bisa terwujud, dengan memanfaatkan setiap ilmu yang kami miliki, kami ingin berkontribusi secara nyata kepada masyarakat. Tidak hanya dengan hasil yang hanya bisa dinikmati satu dua hari, tapi sudah masuk dalam hasil jangka panjang yang bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Banyak hal yang saya dapatkan dalam 4 hari di SKB. Teman-teman seperjuangan yang luar biasa, begitu kritis dan cerdas. Kadang mereka mulai bertingkah lucu ditengah kebosanan, semua unik-unik. Ada yang dijuluki sang “komentar pedang” karena komentarnya yang akan menyayat hati orang yang ditujunya, ada yang dibilang “jo-jo” yang harus dicarikan “shinta”-nya untuk merampungkan video keong racun, kelompok outbond Sule yang hebohnya bukan maiiin..dan masih banyak lagi teman-teman yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Selamat kepada Fakultas teknik yang kadernya bisa menggondol 3 peringkat dari 5 peringkat terbaik di SKB. Kembali lagi menjadi juara yang katanya “sudah tradisi” (kayak biskuit Roma aja!). Yap, ini semua memang sebagian dari kepingan “kisah klasik untuk masa depan” yang benar-benar DAHSYAT!

4 Tanggapan to “Sebuah kepingan kisah klasik untuk masa depan..”

  1. liana Says:

    ckck….
    smg ak bs brkontribusi memajukan bangsa in…
    semangat buat mb mutia…
    smg bs jd kader bangsa yg mampu mmbuka paradigma masy indonesia mnju ksuksesan… amiiin

  2. arya Says:

    baru tau dah gw lo punya blog. hha*
    mana dah yang cerita di FX? emang masih ada? gw mau kesana ni!

    • Biru Laut Says:

      beeuuh…telat banget dah… ni udah dari jaman purbakala.. hahaa..
      iyee..iyee..sabar napa ya,, nulis kudu diselesain satu2 bang…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: