Apakah semua telah luntur??.. Jakarta..oh..Jakarta..


Tahun ini merupakan tahun yang cukup menyenangkan, karena saya bisa menikmati bulan puasa lebih lama di Jakarta bersama keluarga. Sebelumnya, selama dua tahun saya berada di Semarang, cukup lama menikmati puasa di sana dan pulang ke Jakarta saat Idul Fitri menjelang.

Suasana puasa di Semarang (2010) yang paling mencolok adalah adanya tempat-tempat yang menyediakan buka secara gratis terutama di masjid dekat kampus (karena targetnya jelas mahasiswa yang notabene sering ngirit dalam berbelanj hehee). Terlihat ada perlombaan untuk mengejar pahala dengan memberikan buka secara gratis. Selain itu, di sana hampir semua warung makan dan penjual makanan di sepenjang jalan tidak ada yang buka kecuali hampir waktu maghrib (walau ada beberapa yang masih buka). Dan, tidak ada orang yang makan atau merokok di pinggir jalan, meskipun beragama lain.

Selain itu, menjelang buka puasa, setengah jam sebelum buka, kita akan kesulitan berpergian, karena biasanya baik mobil, motor, kendaraan umum, baik angkot maupun taksi semua sudah tumpah ruah ke jalan untuk menyingahi tempat berbuka.

Ada hal yang beda dengan di Jakarta adalah masyarakat di Tembalang, sangat antusias menyambut bulan Ramadhan, bukan hari lebaran. Apalagi persiapan para mahasiswanya.  Dari mulai mengurusi kegiatan-kegiatan masjid seperti kajian, buka puasa gratis, tarawih, sholat berjama’ah dan masih banyak lagi. Kalau saya boleh memuji sudah saya beri jempol empat!

Sementara susana puasa di Jakarta (2010) benar-benar berbeda. Saya sangat tercengang ketika saya turun dari kereta hari ahad lalu. Warung makanan banyak yang masih buka dengan telanjang. Ada juga yang agak malu-malu sehingga yang kelihatan dari luar adalah kaki-kaki orang tanpa ketahuan kepalanya. Tarawih cuma ramai pertamanya saja. Setelah 2 minggu puasa, masjid-masjid mulai sepi dan majelis Mall mulai ramai, apalagi di 10 hari terakhir. Memang sudah menjadi tradisi di Indonesia adalah yang dinantikan bukannya bulan Ramadhan, tetapi hari raya. Bahkan, yang tidak kalah menyedihkan adalah banyak orang yang tidak puasa tetapi antusias menyambut hari raya. Bukankah hari raya merupakan anugerah dan hadiah dari Allah kepada umatnya yang telah bersusah payah melaksanakan puasa sebulan lamanya?

Ironisnya lagi, di Stasiun-stasiun bahkan di pinggir-pinggir jalan orang makan, minum, merokok, sepertinya tidak menjadi beban. Paling ironis lagi yang melakukan itu adalah orang-orang Islam sendiri. Kalau orang-orang yang ber-agama (baca; KTP) Islam sudah tidak lagi menghormati ajaran agamanya, lantas bagaimana umat agama lain mau menghormati agama Islam? Mungkin semua yang selama ini dipahami telah luntur oleh modernisasi kota metropolitan?? ah..saya tidak bisa berkata apa-apa. Hanya rasa pedih saja yang menjalar perlahan sampai ke hati..

“Ya Rabb..Ku mohon kepada-Mu semua kebaikan dari kota ini dan lindungilah hamba-Mu dari segala keburukan kota ini..” Amiiin…

6 Tanggapan to “Apakah semua telah luntur??.. Jakarta..oh..Jakarta..”

  1. Tri Setyo Wijanarko Says:

    hal yang sama sepertinya juga terjadi di surabaya mbak mutia.. disini serasa nggak seperti bulan ramadhan, mirip seperti bulan-bulan lainnya. nggak seperti di jogja yang masih cukup antusias meyambut bulan ramadhan.

    mbak mutia di tembalang? kuliah di undip atas?

    salam kenal ya mbak mutia, ditunggu kunjungan baliknya..

    • Biru Laut Says:

      Sepertinya kota2 besar sudah mulai terjangkit penyakit ini deh.. Sudah sangat jauh berubah dibanding waktu saya kecil dulu..
      Yap! saya kuliah di Undip Tembalang. Salam kenal juga mas Tri.. oke..segera meluncuur…

  2. dahliana agustini Says:

    waw… tragis bener.
    yang buat leherku terasa tercekik, yaitu orang-orang Islam KTP yang tidak puasa dengan gamblangx menunjukkan bahwa ia tidak puasa….
    hmm ampunilah dosa mereka y rabb…

    • Biru Laut Says:

      amiiin….
      iya li, aku aja kaget liatnya..bener2 kayak bukan bulan ramadhan.. padahal tahun2 sebelumnya masih agak sopanlah..tapi untuk tahun ini sepertinya sudah sangat keterlaluan…

  3. Syuaa Says:

    Tragis,,,
    Lebih bahagia di kampung sendiri jadinya (teringat mudik kemaren). Bahkan orang non muslim pun ikut menjaga bulan ramadhan dengan tidak makan diluar rumah. Emang sedikit kecewa ketika main ke daerah jakarta, dan ugh,,, udah mah haus, panas, laper pula, cuape, eh malah makan minum seenaknya. hufft pulkam aja ah.. disana orang ‘kampungan’ lebih menghargai sesama umat beragama.

    • Biru Laut Says:

      saya sangat suka dengan komentar di atas terutama bagian “orang ‘kampungan’ lebih menghargai sesama umat beragama”. Bener syuaa..memang seperti itu sepertinya. walaupun tidak dipungkiri masih bnyk juga orang ‘kota’ yg menghargai agama.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: