Jangan Aman di Zona Nyaman


“Ah kalau tidak ingat bahwa kelak akan ada hari yang lebih panas dari hari ini, dan lebih gawat dari hari ini. Hari ketika manusia digiring di padang mahsyar dengan matahari hanya satu jengkal di atas ubun-ubun kepala. Kalau tidak ingat , bahwa keberadaanku di kota seribu menara ini adalah amanat. Dan Amanat akan dipertanggungjawabkan dengan pasti . Kalau tak ingat , bahwa masa muda yang sedang aku jalani ini akan dipertanyakan kelak. Kalau tak ingat bahwa aku belajar disini dengan menjual satu-satunya sawah warisan kakek. Kalau tak ingat bahwa aku dilepas dengan linangan air mata dan selaksa doa dari ibu, ayah, dan sanak saudara. Kalau tak ingat itu semua, shalat zuhur di kamar saja lalu tidur nyantai menyalkan kipas dan mendengarkan lagu El Hub El Haqiqi dan untaian shalawatnya Emad Arabiy dari Syiria itu tentu rasanya nyaman sekali. Apalagi jika diselingi minum ashir mangga yang sudah didinginkan atau satu minggu d dalam kulkas atau makan buah semangka yang sudah dua hari didinginkan MashaAllah alangkah segarnya “

( Habiburahman El Shirazy , Ayat-Ayat Cinta )


Rangkaian tulisan panjang tadi diambil dari salah satu karya sastra Islam terbaik yang dimiliki oleh bangsa Indonesia . Bahkan pernah diangkat ke layer lebar serta di saat yang sama novel tersebut telah banyak diterjemahkan ke pelabagai bahasa dunia dari mulai Malaysia hingga Jerman. Tetapi membaca rangkaian cuplikan dari karyanya Ustadz Habiburahman El Shirazy, satu poin penting terikat dengan apa yang banyak disebut oleh para aktivis sebagai “Zona Nyaman”. Bagi para Aktivis Kampus hingga para businessman papan atas sangat risau dengan tiap waktu yang hanya digunakan untuk bersantai atau sekedar melakukan kegiatan yang kurang berguna. Karena, bagi mereka, itulah zona nyaman, yang malah-malah mengantarkan mereka pada zona stagnan dan bahkan meluncur sama sek ali.

Comfort Zone dipahami sebagai suatu sikon yang sekilas telah banyak memberikan banyak keleluasaan waktu dan kecukupan materi hingga bagi mereka yang jeli akan tegas banyak “meng kritisi” dengan cara sibuk sendiri dan menenggelamkan diri ke pelbagai kepanitiaan. Itulah yang sering dirasakan selama menjadi mahasiswa TI sebelum memasuki perkuliahan dan praktikumyang banyak menyita waktu. Yang juga banyak dirasakan oleh mahasiswa tingkat akhir. Mencari kegiatan serasa menjadi PR terbesar yang harus digarap oleh Badan Independen Mahasiswa di setiap waktu. Dari mulai mengikuti berbagai kegiatan lembaga kampus, eksternal ataupun ikut turun ke jalan sebagai jurus pamungkasnya mengekssistensikan nama mahasiswa sebagai pelopor perubahan.

Karena boleh jadi ujian itu adalah dalam bentuk kenikmatan dan pujian, maka hendaknya kita mewaspadai “zona nyaman” ini.Zona nyaman yang dimaksud di sini adalah kondisi cepat puas dan merasa cukup dengan apa yang telah dicapai sehingga melalaikan ekspansi kita sebagai mahasiswa. Padahal seorang muslim tak seharusnya memiliki sifat cepat puas. Allah swt berfirman:

“Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sugguh-sungguh (urusan) yang lain.”(QS. Alam Nasyrah :7).


Sang mahasiswa dapat dikategorikan berada di zona nyaman, bila :

Pertama, disibukkannya mahasiswa pada masalah-masalah sepele internal organisasi – yang seharusnya tak perlu dipermasalahkan – sampai-sampai mengabaikan masalah eksternal yang jauh lebih urgen.

Kedua, banyak menghabiskan w aktu dengan bercanda dan ngobrol sesama mahasiswa sehingga kurang intropeksi diri. Jika hal ini terjadi, maka sesungguhnya pada saat itulah kita barada dalam keadaan stagnan,

Ketiga, para mahasiswa sibuk sendiri dengan kegiatan-kegiatan akademis, padahal orang-orang di luar kampus atau bahkan dilingkungan sekitarnya sama sekali tak tersent uh, tidak ngeh dan yang lebih parah, tak tahu ada organisasi islam di kampus atau lingkungan mereka.

Keempat, merasa cukup dengan kondisi saat ini yang dirasa telah cukup (beda dengan rasa syukur) baginya. Padahal bagi seorang muslim tak ada kata berhenti berjuang!

Dan kini tinggal hitungan beberapa hari lagi kita sebagai mahasiswa akan dihadapkan dengan sebuah realita untuk menguji seberapa jauh sentuhan kita terhadap lingkungan berpengaruh. Apakah masih ada kader-kader yang rela berkorban untuk meninggalkan zona nyaman mereka? ataukah yang kita temukan hanyalah sikap apatis dari kebanyakan mahasiswa?? Ya, penggantian kepengurusan dan melanjutkan langkah berikutnya memang sebuah ajang pembuktian diri kita. Sekaligus mempertanggungjawabkan apa yang telah kita perbuat selama ini. Apakah kita lebih sering menghabiskan waktu di zona nyaman (lebih sering bersantai) atau kita termasuk orang-orang yang berjuang sehingga bisa menginspirasi orang lain untuk ikut berjalan dalam barisan “perang”.

Membaca riwayat dan atsar para ulama terdahulu, Comfort Zone menjadi periode atau poin yang sangat menakutkan. Hingga Imam Ahmad yang telah berkali-kali mengalami penyiksaan oleh rezim Al watsiq Billah dari Dinasti Abbasiyah “Tiada Kata Istirahat hingga kakiku menapak di SurgaNya “ atau Imam Zamakhsyari yang bersenandung puitis  “jari-jemari di atas kertas dan buku-buku lebih kusukai dari pada para wanita atau alunan rebana “  dan nyatanya itu pula yang menjadi  jawabannya  kala seorang ulama salaf berdoa “ ya Allah, tabahkanlah agar aku mampu bersabar di saat Kau berikan aku kelapangan “ .

Begitulah zona nyaman, zona yang sangat menyenangkan karena kita bisa berbuat apapun yang kita mau di dalamnya sekaligus zona yang stagnan yang membuat kita tidak akan pernah bisa berkembang. Ada satu kalimat yang pernah saya dengar, cobalah resapi maknanya kawan..luar biasa!

“Jangan pernah mimpi jadi seekor elang kalau kau hanya memilih untuk memakai sayap burung pipit!”

 

*buletin Al-Haq IIC

4 Tanggapan to “Jangan Aman di Zona Nyaman”

  1. keripikotaku Says:

    Nice artikel..

    Thankx for sharing..

    ^^

  2. Is_Mud Says:

    ass,,, semangat sekali tulisannya buuu,,, bisa membuat merinding dan memberikan banyak inspirasii,,,
    tq

  3. Biru Laut Says:

    wa’alaikumussalam wr wb.. alhamdulillah.. ini juga dr berbagai sumber koq mud.. tinggal digarap sesuai kultur mahasiswa TI.
    smg bermanfaat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: