Pilih mana, Tingkatkan Kekuatan atau Perbaiki Kelemahan?


\

Akhir-akhir ini memang cuaca cukup dingin tapi organisasi kampus sedang panas-panasnya. Banyak diskusi soal ini, kadang banyak mahasiswa yang memang memilih untuk stop organisasi dan memperbaiki IPK dibanding melanjutkan ke jenjang yang lebih mengasah softskill atau bakat yang mereka punya. Kalau dibilang apatis? ya tidak juga, lah wong mereka-mereka ini juga banyak berkontribusi selama kurang lebih 1-2 tahun kok. Lantas, apa sih yang sebenarnya dikhawatirkan?

Saya sendiri merasakan IPK saya memang sedikit merosot ketika saya ikut di organisasi. Tapi ya masih wajar lah karena masih IPK saya masih di atas 3. Sebenernya untuk saya sendiri, saya lebih menyukai organisasi yang banyak mengasah otak kanan saya dibanding dunia perkuliahan yang lebih memanjakan otak kiri saya. Saya merasakan lebih memiliki bakat di dunia pengelolaan sumber daya manusia, lobbying, komunikasi dan design grafis dibanding jika saya disuruh belajar statistik yang sampai saat ini saya masih sering dibuat pusing dengan semua jenis-jenis distribusi yang ada. Ya itulah kekuatan dan kelemahan saya.

Nah, ngomong-ngomong baru-baru ini saya membaca sebuah buku karangan pak ippho. dan dibuku itu dibahas demi menjadi pemenang, manakah yang seharusnya kita titik beratkan, kekuatan atau kelemahan? 

Nah ini dia sedikit bagian dari buku itu (dengan sedikit perubahan agar dekat dengan kehidupan saya):

Idealnya sih, dua-duanya. Kekuatan ditingkatkan, kelemahan diperbaiki. Iya kan? Ya iya! Tapi tolong dipahami sungguh-sungguh, sumber-sumber yang kita miliki sangatlah terbatas. Mau tidak mau, kita mesti memilih salah satu dan merelakan yang lain. Lantas apa pilihan Teman-teman? Kalau saran saya sih, lebih baik tingkatkan kekuatan bukan memperbaiki kelemahan. Sekali lagi, tingkatkan kekuatan.

Katakanlah, A jago negosiasi tapi bego statistik. Dengan mengasah kemahiran negosiasi, maka efektivitas negosiasi A akan terdongkrak, misal yang semula nilainya 7 menjadi 9. Sebaliknya, dengan mengasah kemahiran statistik, maka efektivitas statistik A akan terdongkrak, misalnya dari semula nilainya 5 menjadi 7. Nah, berdasarkan ilustrasi barusan, apa komentar Teman-teman? Terus, Kalian mau tahu komentar saya? Baiklah..baiklah..😛

Pilihan pertama jelas-jelas lebih menguntungkan. Dengan efektivitas negosiasi mencapai nilai 9, bukan mustahil A menjadi juara untuk urusan negosiasi-tak terkalahkan oleh siapapun. Iya kan? Pilihan kedua? Dengan efektivitas statistik cuma nilai 7, yah, A cuma jadi orang biasa-biasa saja untuk urusan statistik. Dan pastinya tidak sedikit orang yang sanggup mengalahkan A untuk urusan yang satu ini. Ya atau iya?

Kalaupun A memang bego untuk urusan statistik, apa yang harus dia lakukan hanyalah mencari partner yang jago untuk urusan tersebut. Cuma itu! Selesai! Memperbaiki kelemahan hanya mengubah kita dari orang dibawah rata-rata menjadi orang rata-rata. Sedangkan Meningkatkan kekuatan akan mengubah kita dari orang yang rata-rata menjadi orang di atas rata-rata.

Terbukti, kebanyakan orang menjadi pemenang di muka bumi ini karena telah meningkatkan kekuatannya. Amat langka karena telah memperbaiki kelemahan. Selain lebih menghasilkan, kekuatan inilah yang akan lebih membahagiakan. Bagi kita, ini semacam panggilan jiwa, bukan semata panggilan kerja. Lantaran menghasilkan dan membahagiakan, maka dengan senang hati kita akan terus-menerus mendalaminya. Dan jadilah ini satu keunggulan yang berkelanjutan. Pada akhirnya nanti, keluarlah seluruh potensi kita. Nah, kalau sudah maksimal begitu, bisa jadi efektivitas negosiasi A melampaui nilai 9, mendekati 10.

Seorang anak yang berbakat berhitung, mestinya bakat berhitung ini terus-menerus diasah. Bukannya malah mencari-cari kelemahan si anak dan sibuk memperbaiki kelemahannya. Seekor burung kecil mempunyai bakat alami dalam mematuk. Jangan pernah melatihnya untuk membelit. Sebaliknya, seekor ular besar mempunyai bakat membelit. Jangan pernah melatihnya untuk mematuk.

Saya jadi teringat salah satu kalimat di film 3 idiots, yang kalau tidak salah begini bunyinya:

“Bayangkan, apa jadinya kalau ayahnya Michael Jackson memaksanya untuk belajar karate dan Ibunya Mariah Carrey memaksa dia untuk belajar kalkulus?”

Ditulis dalam Organization. 3 Comments »

3 Tanggapan to “Pilih mana, Tingkatkan Kekuatan atau Perbaiki Kelemahan?”

  1. yoga Says:

    Ya memang harus seirama Mut..tapi seiramanya harus sesuai “apa yang ada” pada kemampuan kita.
    Memang burung yg mematuk jangan sekali-kali diajari melilit😀

    btw..bagus analoginya ^^

    • Biru Laut Says:

      sepakat bung yoga.. tp tulisan d atas ini dlm kondisi:
      “sumber-sumber yang kita miliki sangatlah terbatas. Mau tidak mau, kita mesti memilih salah satu dan merelakan yang lain.”
      jadi pengen blogwalking jg nih k tempat mu.😀

  2. yoga Says:

    punyaku lagi under construction…hihihi

    tengz wat nyempetin mampir..:p


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: