Pesawat bisa terbang bukan karena keputusan Presiden!


Masih teringat jelas dalam memori saya, kata-kata itu meluncur tegas dari mulut seorang ilmuwan besar Indonesia, pembuat pesawat pertama di Indonesia (dan semoga bukan yang terakhir), ya benar, Beliau adalah Bacharuddin Jusuf Habibie. Persis, kalimat seperti itulah yang beliau ucapkan di depan Presiden Soeharto saat ditanya tentang kepastian pesawatnya.

Di sebuah ruangan yang penuh oleh para aktivis mahasiswa UNDIP, beliau membagikan semangat nasionalismenya kepada kami.

Diawali dengan sebuah kata-kata yang luar biasa dari beliau, “Bangsa Indonesia itu, sejak awal mengandalkan masa depannya  pada kemajuannya dari Sumber Daya Manusia yang terbaharukan dan tidak pada sumber daya alam! SDA adalah pemberian Allah SWT yang harus kita manfaatka sebaik-baiknya untuk meningkatkan kualitas hidup. Kualitas hidup dalam bekerja, berkarya dan beribadah kepada-Nya” (Subhanallah..)

Sejenak saya berpikir, ya, SDA Indonesia memang seperti yang dikatakan oleh Koes Plus, “Bukan lautan hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupi mu. Tiada topan, tiada badai Kau temui. Ikan dan Udang menghampiri dirimu.” Nah, sayangnya kita terlampau sering mengandalkan semua itu. Kita lupa bahwa SDM yang terbaharukan jauh lebih bisa diandalkan ketimbang SDA. Karena selama Indonesia tidak memiliki SDM yang baik, selama itu pula Bangsa Indonesia akan hidup dibawah garis kemiskinan.

Dan taukah teman-teman bahwa Asia Selatan (Indonesia termasuk di dalamnya) menempati posisi ke dua terbanyak setelah Sub-Sahara Africa  dalam ranking kawasan di dunia yang presentasi pendapatan penduduknya per orang per hari  kurang dari 1,25 dollar US (sekitar 11.000 rupiah)?  Selain itu, 50% penduduk tiap negara di dunia, tinggal di pedalaman. Dan taukah Anda bahwa Asia Selatan bahkan melebihi rata-rata tersebut hingga 70% ! (bahkan mengalahkan Sub-Sahara Africa) An inconvenient truth

Beliau berpesan bahwa IMTAQ dan IPTEK harus dikembangkan secara seimbang. Karena itu yang akan menjadi modal untuk memajukan bangsa ini. Bangsa ini rusak karena terlalu banyak manipulasi yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Komitmen untuk tidak melakukan manipulasi itu sudah tumbuh dalam dirinya sejak beliau belajar teknologi. Dalam dunia teknologi, melakukan manipulasi akan berakibat fatal. “Tak bisa saya melakukan manipulasi, kalau saya manipulasi sayap, pesawat bisa jatuh,” Begitulah.. ilmu membuat beliau semakin dekat dengan kebenaran.

Ditengah-tengah presentasi, Prof Habibie memutarkan film yang bercerita tentang perusahaan strategis nasional yaitu PINDAD, INKA, PAL, dan Dirgantara Indonesia (IPTN). Pada tahun 1995, pesawat N-250 diuji terbang secara terbuka. Dengan penuh perasaan haru, beliau mengatakan bahwa N-250 adalah satu-satunya pesawat yang uji terbangnya disaksikan langsung oleh seluruh orang di seluruh dunia. Biasanya uji terbang pesawat dilakukan secara rahasia. Sayap N-250, sampai dengan saat ini merupakan sayap dengan teknologi aerodinamika terbaik didunia.

Tetapi apa yang terjadi? Pak Habibie berkata, “Sebenarnya pada tahun 2004, N-250 sudah terbang selama 900 jam untuk mendapatkan sertifikasi terbang 1800 jam. Dan ketika itu kami harus menghentikan semuanya. N-250 tidak jadi dipasarkan, dan IPTN hancur lebur. Saya malu pada cucu-cucu saya, tidak ada satupun yang saya wariskan kepada mereka. Bayangkan bagaimana rasanya?”.

“Pesawat itu bisa terbang bukan karena keputusan Presiden, tapi karena teknologi. Tapi kini teknologi yang dibanggakan negeri ini 15 tahun yg lalu, dan bahkan oleh dunia sekalipun mengakuinya, kini apa? tinggal kenangan… apa yang bisa saya berikan ke anak cucuku sekarang, saya malu…”

Pernyataan ini menimbulkan suasana haru. Yah, saya membayangkan betapa sangat kecewanya beliau. Sangat dalam. Saya ingat, 15 tahun yang lalu saya masih duduk di bangku SD, dan saya diceritakan oleh guru saya bahwa Indonesia sudah bisa membuat pesawat sendiri!  Saya menyangka bahwa Bangsa Indonesia akan berjaya, dan kemudian saya ikut merasa kecewa ketika saya beranjak dewasa, dan kejayaan itu seperti hanya angan-angan belaka. Lalu Prof Habibie menyemangati kami dengan pernyataan beliau bahwa, Allah menciptakan otak sama untuk seluruh manusia. Yang membedakan hasil dan pencapaiannya adalah perilaku manusia dan bagaimana ia memfungsikan otaknya. Jadi jangan berpikir kalau kita tidak pernah mampu untuk menyaingi bangsa-bangsa maju!!

*Terimakasih Prof, sudah memberikan Inspirasi yang luar biasa untuk saya.. Semangat belajar, semangat bekerja, semangat berkarya, semangat beribadah..!

Ditulis dalam Reportase. 7 Comments »

7 Tanggapan to “Pesawat bisa terbang bukan karena keputusan Presiden!”

  1. Yandri Mahaldy Z Says:

    Mengembalikan mimpi ke tempat seharusnya… tinggi….

  2. Biru Laut Says:

    kalau mimpinya punya sumur minyak, rendah dong ya?😛

  3. Yandri Mahaldy Z Says:

    walah…
    kalo ada gejala kayak gini sih, seharusnya keman-mana bawa parasut…😀

  4. prasetyo yulianto Says:

    subhanAllah..good inspiration mut…:-)

    • Biru Laut Says:

      Inspirasi dr orang hebat biasanya menular..emang luar biasa bgt deh pak habibie.. jadi malu,selama jadi mahasiswa cuma gini2 aja.. mana manfaatnya buat bangsa?? -.-“


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: