Ini Cerita ku mana Cerita mu? :p


Entah kenapa tiba-tiba malam ini teringat akan asal muasalanya saya suka sekali dengan novel. Sebenarnya sih dari sejak kecil saya memang sudah hobi membaca. Mungkin memang karena Ayah dan Ibu membiasakan 4 anaknya untuk suka membaca sejak dini dengan memberikan bacaan ringan untuk anak-anak. Mulai dari berlangganan majalah “Aku Anak Sholeh” (ini masih ada ga ya majalahnya?) sampai majalah “Donal Bebek” yang kalau dikumpulkan bisa sampai berkarung-karung hehee. Setiap minggu majalah kesayangan datang, saya, aa dan teteh selalu berebut untuk membacanya duluan. ya, memang hanya kami bertiga, karena memang adik laki-laki saya terlampau cuek dan tidak suka membaca.  

Nah, perkenalan pertama kali saya dengan sebuah novel adalah pada saat saya duduk dibangku SMP kelas 1. Siang hari, seusai shalat dzuhur di masjid sekolah, saya iseng mampir di perpustakaan yayasan. Di deretan rak buku saya mencari bahan bacaan yang kira-kira tidak terlalu berat untuk seumuran saya saat itu. Tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah buku tipis usang berwarna biru tua dengan tulisan HAMKA di sampulnya. ya, yang pertama kali menarik perhatian adalah pengarang buku ini sepertinya orang yang sering disebut-sebut namanya di beberapa tulisan yang pernah saya baca. Dengan sapaan akrab Buya HAMKA.

Mata saya menjelajahi tiap sisi sampul bukunya dengan tulisan berwarna putih : “Di bawah Lindungan Ka’bah” dengan sedikit potongan cerita dibagian belakangnya. Sejenak kubaca. Ooo, ternyata novel roman. Kisah dua insan manusia yang saling jatuh cinta.. Kisah Hamid dan Zaenab..

Akhirnya, saya memutuskan untuk meminjamnya dan membaca lanjutan ceritanya di rumah. Wah, ternyata saya tidak salah pilih buku. Novel ini seperti membawa saya kembali ke masa-masa siti nurbaya. Perjodohan, Cinta yan tak sampai bahkan tragisnya Hamid dan Zaenab saling mencinta tanpa sempat takdir menyatukan keduanya.

Saya masih ingat betul dialog yang paling menyentuh antara Zaenab dan Hamid:

Zaenab : “Apa cita-cita terbesar mu hamid?”

Hamid : (terdiam sejenak berpikir) “Aku ingin pergi ke tanah suci menunaikan ibadah haji”

Zaenab : “Kalau begitu, aku titipkan doaku padamu. jika kau sampai disana, doakan aku agar aku bisa menikah dengan laki-laki yang aku cintai dan mencintaiku..” (sambil memalingkan muka agar tetesan air matanya tak terlihat oleh Hamid)

Air mata saya pun tak terbendung lagi saat membaca kisah ini. Terutama saat bagian Zaenab membaca surat dari Hamid yang iya kirimkan dari Mekkah. Bayangkan saat itu saya baru berumur 12 tahun, dan saya bisa sebegitu tersentuhnya membaca novel roman karya buya HAMKA ini. Dalam novel ini pertama kalinya juga saya mengenal cinta yang suci dan indah. Sungguh, bahwa pada akhirnya hanya Allah lah penentu segalanya. Begitu pun akhir kisah cinta Hamid dan Zaenab yang bersatu pada saat berakhirnya waktu.. :’)

Dan sejak membaca novel “Di Bawah Lindungan Ka’bah” ini, akhirnya saya mulai jatuh hati dengan novel-novel islami. Dari sinilah awal kecintaan saya membaca novel-novel. Dari mulai novel islami remaja yang tipis-tipis sampai sekarang novel serial Harry Potter dan  novel “berat” karya Dan Brown pun saya babat habis. terimakasih Buya HAMKA🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: